Thursday, May 19, 2016

Masjid dan Teknologi

Oleh : Gun Faisal
Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Riau

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk"  (QS 9:18, At Taubah). 

Masjid berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan salat. Masjid sering disebut baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Sedangkan teknologi secara harfiah berarti keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Masjid dan teknologi merupakan dua hal yang berkaitan, masjid sebagai tempat ibadah, dan teknologi merupakan penunjang dari peribadatan itu sendiri. Kemajuan teknologi yang berkembang pesat tidak dapat dibendung, perubahan-perubahan dan penemuan-penemuan yang terus terjadi memberikan dampak yang cukup besar bagi peradaban manusia. 

Contoh sederhana misalnya pengeras suara, dengan teknologi pengeras suara, suara azan yang dikumandangkan di masjid akan terdengar ke seantero kampung. Teknologi yang nyata yang memiliki dampak baik bagi perkembangan yang ada. 



Pernah dengar Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB)? Masjid Salman ITB merupakan salah satu masjid yang tidak memiliki kolom (tiang) di tengah bangunan. Kenapa tidak berkolom? Apakah masjidnya kuat? Pertanyaan seperti itu muncul. Namun dengan perkembangan teknologi dan material bangunan, kita bisa membuat masjid tanpa kolom. Adapun tujuan tanpa kolom tersebut tidak lain dan tidak bukan untuk kesempurnaan salat berjamaah. Adanya kolom membuat shaf menjadi putus, namun dengan teknologi hal tersebut dapat diatasi. 

 

 

Selanjutnya Masjid Nabawi, yang merupakan salah satu masjid terpenting yang terletak di Kota Madinah, Arab Saudi, dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi makam Rasulullah dan para sahabat. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang utama bagi umat muslim setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsa di Palestina. Kita selalu mendengar cerita dari sanak keluarga yang pergi haji dan umrah, bahwa Masjid Nabawi memiliki atap atau  payung-payung modern antipanas dan kubah yang yang bisa menutup dan membuka dalam waktu beberapa detik. Total kubah tersebut berjumlah 27 buah dan berbobot 80 ton. Hal tersebut merupakan salah satu contoh penerapan teknologi pada bangunan masjid. Payung raksasa ini berfungsi sebagai peneduh panas, dapat terbuka dan tertutup secara otomatis sebagai pelindung bagi jamaah yang beribadah. Kubah-kubah masjid juga berfungsi sebagai pengatur udara dalam bangunan, kubah tersebut bisa dibuka dan ditutup secara elektronik dan manual.

Kenyamanan lain Masjid Nabawi adalah memiliki marmer super mahal yang mampu mengubah suhu panas menjadi dingin.Tidak heran jika pertama kali menginjakkan kaki saat memasuki areal masjid, kaki kita terasa lebih sejuk. Jangan dilihat kemahalan marmer tersebut, tapi lihatlah bagaimana teknologi berperan dalam upaya menunjang kegiatan yang ada. Suhu di Makkah dan Madinah yang pada musim panas bisa mencapai 50 C, yang mana radiasi matahari tersebut akan berpindah ke dalam masjid, sehingga bangunan secara keseluruhan akan menjadi panas. Dengan penggunaan teknologi pendingin lantai, hal itu dapat teratasi.

Lantai Masjid Nabawi juga dilengkapi dengan sistem pendinginan, di mana air dingin diproduksi di sebuah bangunan khusus yang terdiri dari tujuh mesin pendingin raksasa, yang mampu menahan level tekanan panas dan suhu tinggi. Mesin-mesin tersebut mampu mendinginkan ribuan galon air yang bersirkulasi tiap detik. Kemudian udara dialirkan melalui pipa baja ke bagian bawah lantai marmer dan pilar-pilar masjid. Air dingin yang menghadirkan rasa sejuk bagi jamaah dialirkan kembali ke basemen masjid melalui pipa penyalur. Hal inilah yang membuat lantai menjadi dingin, dan para jamaah bisa merasakan kenyamanan saat beribadah meski di bawah terik matahari sekali pun.

Begitu juga dengan Masjidil Haram, sebagai masjid terbesar dan tersuci bagi umat Islam, tempat beribadah umat muslim yang berada di Kota Suci Makkah. Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid ini dibangun mengelilingi Kakbah, yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah salat. Masjid ini juga merupakan masjid terbesar di dunia. Sama seperti sistem pendingin lantai di Masjid Nabawi, Masjidil Haram juga memiliki pendingin lantai. Selain itu, dengan teknologi modern saat ini, setiap jamaah bahkan mereka yang berjarak ratusan meter dari Masjidil Haram dapat menikmati hal yang sama melalui teknologi baru pengeras suara. Pengeras suara pintar ini akan mengatasi kendala sulitnya mendengar suara dan doa yang dilantunkan oleh imam, ketika kita berada jauh darinya. Lebih dari 50 pengeras suara berkualitas tinggi terpasang dalam jarak lima meter satu sama lain untuk mengirimkan suara ke ratusan ribu jamaah yang sedang melakukan salat di dalam dan di dekat Masjid Haram.



Kemudian ada Masjid Hasan II di Casablanca, Maroko. Masjid yang memiliki minaret paling tinggi di dunia dengan ketinggian 210 meter, di mana teknologi tinggi diaplikasikan di masjid yang megah ini. Teknologi cahaya laser digunakan untuk pencahayaan dan memberikan keindahan pada malam hari. Selain itu, terdapat pemanas lantai untuk mengontrol temperatur ruang masjid  ketika suhu dingin. 

Dapat kita lihat bagaimana penggunaan teknologi itu mendukung kegiatan manusia di dalamnya untuk beribadah. Teknologi dimanfaatkan untuk memberikan kenyamanan, kekhusukan dalam upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. 

Pada masa sekarang  teknologi sudah diterapkan hampir di setiap masjid yang ada. Masjid-masjid besar nan megah dengan penggunaan teknologi canggih di dalamnya. Ada masjid dengan kubah yang besar nan indah, dengan kubah berwarna emas, ada masjid dengan minaret-minaret yang tinggi. Namun ada juga masjid yang tidak punya kubah, hanya berbentuk persegi. Pada dasarnya hal tersebut tidak masalah, karena fungi utama masjid sebagai tempat ibadah, tidak melihat bentuk maupun tingkat kebesaran dan kemegahannya. 

Ada fenomena menarik yang perlu kita perhatikan belakangan ini. Fungsi masjid pada dasarnya merupakan tempat ibadah, dewasa ini fungi tersebut berkembang. Masjid dengan perkarangan luas, dengan ruang terbuka yang luas. Kita bisa lihat di beberapa tempat, perkarangan masjid yang luas berubah fungsi menjadi lokasi olahraga. Namun yang membuat miris, busana yang dipakai untuk olahraga di halaman masjidnya busana olahraga yang minim, seharusnya mereka yang masuk wilayah ini wajib berbuasana muslim. 

Perlu kita sadari, secanggih apapun teknologi, sehebat apapun bangunan masjid, serta semegah apapun masjid tersebut, tetaplah masjid yang ramai jamaahnyalah yang lebih baik. Masjid yang selalu mengumandangkan suara azan, masjid yang melantunkan ayat-ayat Alquran, masjid yang selalu melaksanakan kajian Islam itu lah masjid paling baik. Kita sebagai makhluk, sudah seharusnya meramaikan masjid, jadilah generasi masjid, para remaja masjid, yang selalu meramaikan masjid dengan ibadah, bukan sebaliknya. Jadi dapat kita pahami, teknologi merupakan pendukung dari fungsi masjid itu sendiri.

[ riaupos.co ]

No comments:

Post a Comment

Dapatkan soft-disain rumah tempat tinggal di halaman [KLIK DISINI]

Dezeen Magazine

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...