Thursday, June 9, 2016

Bahan Bangunan dari Jamur


Material bangunan dari jamur ini lebih kuat dari batu bata. Mampu menahan bobot setara 10 mobil!
Empat tahun lalu, ada inovasi baru dari anak muda-anak asal Bandung. Ide bermula dari tumbuhan sederhana tak berklorofil. Apakah itu? Jamur. Tumbuhan inibiasa dinikmati masyarakat umum dengan sentuhan hidangan tekwan, sop ataupun salad dan beragam menu lain. Kali ini berbeda.
Anak muda dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran ini menciptakan bahan bangunan dari jamur. Para ilmuwan muda ini adalah Adi Reza Nugroho, Annisa Wibi, Robbi Zidna Ilman, Arekha Bentang dan Ronaldiaz Hartantyo.

 

 

Lima sekawan ini, dengan keuletan mampu menciptakan lempengan semacam batu untuk bahan bangunan. Namanya, Mycotech. Secara fungsi, material ini seperti bata dan kayu, bentuk dan warna dapat divariasikan menjadi aneka ragam.
”Awalnya kami tak percaya jamur bisa jadi material bangunan,” kata CEO Mycotech, Adi Reza Nugroho kepada Mongabay, baru-baru ini.
Awalnya, mereka merintis usaha penanaman bibit jamur bernama Growbox. Tak puas sampai disitu, berbagai macam literaturpun dibuka, dari jamur menjadi cemilan sehari-hari sampai bioetanol dan lain-lain.
Reza cs memutuskan diversifikasi jamur. ”Proses sama, tapi bisa jadi banyak manfaat,” katanya. Material bangunanlah yang menarik mereka selami lebih dalam.
Meskipun begitu, keraguan sempat muncul. “Apa bisa kuat dan mampu bersaing dengan yang lain?” Pikiran itu muncul di kepala mereka.
Mereka terus jalan. Riset panjang bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dilakukan. Selama dua tahun, kegagalan seringkali muncul namun tak membuat mereka berhenti.
Akhirnya…hasilpun memuaskan. Inovasi ini menyabet beberapa penghargaan seperti pemenang Wirausaha Muda Mandiri dan berkesempatan menjadi salah satu peserta pelatihan wirausaha sosial Indonesia DBS Social Entrepreneurship (SE) Boot Camp.
Ramah lingkungan
Terinspirasi dari pembuatan tempe, dimana jamur Rhizopus mampu mengikat kedelai melalui akar jamur yang disebut Mycelium. Begitu juga pola dalam pembuatan Mycoctech. ”Ini tak mengandung racun, sangat aman,” kata Robbi, Chief Operating Officer Mycotech.
Material mengandung limbah pertanian seperti tandan kosong sawit, serbuk kayu, dan onggok tapioka. Bahan-bahan ini dari limbah pertanian di Desa Cisarua, Lembang, Jawa Barat. Ratusan petani mereka berdayakan memasok bahan dasar ini.
Setiap bahan campuran beragam karakteristik terutama warna. ”Kalau banyak onggok tapioka warna menjadi agak kuning terang, kalau serbuk kayu menjadi coklat,” katanya.
Komposisi ditentukan saat pengolahan. Pada material ini, limbah pertanian diikat dengan jamur bernama Pleurotus. Adapun, proses terjadi secara alami di dalam media tanam atau baglog jamur tiram dari petani.
Baglog, salah satu limbah bahan baku mycotech yang dicampur limbah pertanian lain. Setelah komposisi, jamur dibiarkan mengikat antarmaterial dengan jaring-jaring hingga menyatu.
”Biasa proses pembuatan sampai 30 hari,” ucap Robbi. Ini masa sterilisasi, inkubasi dan pengeringan. Prosesnya, bisa alami maupun menggunakan teknologi.
Setelah itu, lempengan menyerupai batu bata siap digunakan. Secara fisik, lempengan terlihat dari serpihan material yang diikat jamur. Jangan remehkan kekuatan bahan ini, ia melebihi batu bata.”Ini sudah diuji, bisa menahan tekanan setara 10 mobil.” Material inipun ringan, fire proof, teruji tak menyebabkan lembab.
Peningkatan ekonomi petani
Kreativitas ini cukup berdampak bagi petani. Pasalnya, pembelian limbah pertanian di petani memberikan tambahan penghasilan hingga 50%. Apalagi setiap tahun, Indonesia memproduksi 120 ribu ton limbah pertanian.
Menariknya lagi, produksi ini mampu dilakukan di berbagai pulau. Bahan tergantung limbah pertanian. “Misal di Papua, sulit bahan bangunan, mereka bisa produksi sendiri. Nanti bisa develop material.” Jadi, memotong biaya dan karbon Indonesia dibandingkan harus mengirim bahan bangunan dari jauh. ”Dibanding membangun infrastrukrur, kita mesti menambang dan merusak pengelolaan air,” katanya.
Dalam satu meter persegi, Mycotech membutuhkan 16,5 kilogram limbah pertanian. Hingga kini pemesanan baru mencapai 20 meter persegi. Angka ini masih jauh dari harapan.  Dia berharap, temuan ini tak hanya bernilai ekonomis bagi petani, namun menjadi langkah berkelanjutan bagi Indonesia.
Selanjutnya?
Pada awal mereka hanya bermodal duit sendiri, kini Mycotech mendapatkan pendanaan riset untuk komersialisasi. Dari 2016-2018 mendapatkan dana Rp1,3 miliar dari dana riset produktif LPDP kategori ‘advance material’.
Hingga kini, dalam sebulan baru memproduksi 20 meter persegi, dengan target awal 3.000 meter persegi sebulan. Produk ini diminati para desainer ataupun arsitektur. “Pilot project masih belum, kita akan develop lagi.”
Hingga kini, katanya, produksi masih rumahan. Kala mampu produksi massal, harga jual akan makin murah. Kini, harga Mycotech Rp 500.000 per meter persegi. Mereka mau serius mempromosikan agar produksi lebih banyak dan harga turun. ”Jika sudah begitu, kita bisa menjual di depo-depo bangunan,” katanya.
[Sumber : https://www.mongabay.co.id]

No comments:

Post a Comment

Dapatkan soft-disain rumah tempat tinggal di halaman [KLIK DISINI]

Dezeen Magazine

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...