Thursday, October 11, 2012

High Hopes Riding on Jakarta’s Airport


Indonesia is working on an ambitious upgrade of Jakarta’s long-maligned international airport. But there are doubts that the expansion will turn Jakarta into Asia’s newest travel hub.

The $1.5 billion upgrade—the most extensive since Jakarta’s airport was opened in 1985—is part of the government’s broader drive to overhaul Indonesia’s dilapidated infrastructure. Improvements to the country’s roads, airports and sea ports are considered crucial to maintaining growth in Southeast Asia’s biggest economy.

But leaders have largely failed to get projects off the ground in recent years, leading to increasing frustration among residents and investors who worry Indonesia isn’t serious about pushing through needed changes.

Indonesia has finally embarked on an ambitious upgrade
of Jakarta’s long-maligned international airport.

Experts say the expansion–while certainly welcome news
for travelers–isn’t likely to turn Jakarta into Asia’s newest major travel hub.

The upgrade, the most extensive since Jakarta’s airport
was opened in 1985, is part of the government’s broader drive
to overhaul Indonesia’s dilapidated infrastructure.
Leaders have largely failed to get major projects off the ground in recent years,
leading to increasing frustration among residents and investors
who worry Indonesia isn’t serious about pushing through needed changes.
Progress at Soekarno-Hatta International Airport–if it comes quickly–could help
reverse that perception, while also giving visitors a more positive
impression of the country when they first arrive.
At the moment, Soekarno-Hatta is one of the most congested
airports in the region, with long lines and delays at check-in counters
and departure gates, and few of the amenities found in more modern airports.
While the airport was built to accommodate 22 million passengers a year,
more than 50 million have passed through annually in recent years.
[ Sumber Foto : http://blogs.wsj.com/ ]

Ekspansi 14,4 Triliun Cengkareng

Pemerintah tengah berusaha meningkatkan kapasitas bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Namun, publik sangsi ekspansi itu akan mengubah Jakarta menjadi poros terbaru Asia dalam urusan perjalanan.
Pembaruan senilai US$1,5 miliar (sekitar Rp14,4 triliun), nilai terbesar sejak bandara itu dibuka pada 1985, merupakan bagian dari upaya pemerintah mendongkrak kualitas infrastruktur. Perbaikan jalan, bandara, dan pelabuhan dianggap penting demi mempertahankan tingkat pertumbuhan di Indonesia.

Pemerintah sering gagal mengimplementasikan proyek-proyek tersebut. Ujungnya, makin banyak warga diliputi frustasi. Para investor pun mempertanyakan komitmen Indonesia.

Keberhasilan dalam proyek bandara Soekarno-Hatta bisa membantu membalikkan anggapan itu. Di sisi lain, para turis akan punya kesan bagus tentang Indonesia.

Saat ini, Soekarno-Hatta adalah salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara dengan jumlah penumpang membludak dan kian banyaknya penerbangan tertunda. Selain itu, faktor kenyamanan bandara modern juga absen. Soekarno-Hatta dibangun untuk menampung sekitar 22 juta penumpang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 50 juta penumpang mondar-mandir per tahunnya.

Para penumpang mengeluhkan buruknya fasilitas perbelanjaan di bandara. Sebuah kajian dari sekelompok perusahaan Jepang tahun lalu, menunjukkan kurangnya wilayah komersil mengakibatkan hilangnya peluang menangguk untung.
Studi itu menunjukkan bahwa aktivitas non-penerbangan seperti usaha ritel menyumbang tak lebih dari 20% pendapatan bandara Soekarno-Hatta. Padahal, banyak bandara negara lain merengkuh 46,5% pemasukan dari aktivitas non-penerbangan.

Juru bicara Angkasa Pura II, Ferry Utamayasa, menyatakan rencana perluasan terhadap bandara akan meningkatkan daya tampung hingga 62 juta penumpang per tahun. Angkasa Pura II adalah perusahaan pengelola 12 bandara di tanah air, salah satunya Soekarno-Hatta, bandara terbesar di Indonesia.

Rencana itu meliputi pembangunan fasilitas baru untuk pertokoan dan restoran yang akan terhubung dengan ketiga terminal bandara. Saat ini, ketiganya masih terpisah dan penumpang mesti berjalan kaki atau naik kendaraan untuk berganti terminal.

Selain itu, Soekarno-Hatta juga akan memiliki terminal kargo, tempat parkir, dan trem baru. Terminal 3, markas penerbangan murah Mandala Air, AirAsia, dan Lion Air, pun akan mengalami perluasan.

Proyek ambisius yang direncanakan selesai tahun 2015 itu akan dikerjakan secara bertahap, ujar Ferry. AP II telah menyelesaikan beberapa pekerjaan awal, termasuk memperluas akses ke jalan utama dan ruang tunggu di Terminal 1, serta membangun gardu listrik baru. Menurutnya lagi, pekerjaan itu takkan mengganggu jadwal penerbangan.

Namun, Siva Govindasamy, redaktur pelaksana Flightglobal, kelompok media penerbangan seperti Flight International, berpendapat lain. Menurutnya Soekarno-Hatta butuh daya tampung lebih banyak lagi karena tingginya tingkat permintaan. Artinya, ia menambahkan, butuh lebih banyak landasan dan terminal baru.

“Alternatifnya adalah membangun bandara baru di Jakarta yang memiliki kapasitas dan ruang lebih besar untuk mengakomodir pertumbuhan penumpang di 20, 30, atau bahkan 40 tahun mendatang,” ungkapnya.
Menurut dia, Soekarno-Hatta yang lebih modern tidak akan mengungguli poros perhubungan mapan seperti Singapura yang melayani 100 maskapai penerbangan; jauh lebih besar ketimbang Soekarno-Hatta dengan sekitar 40 maskapai penerbangan di mana 12 di antaranya merupakan maskapai penerbangan lokal.

“Masalahnya tidak semata terletak pada bandara melainkan jaringan yang menghubungkan bandara itu,” ujarnya.

Sebagian tantangan Indonesia terletak pada unsur geografis. Rebah di selatan Asia Tenggara, Indonesia sulit menjadi poros penerbangan yang menghubungkan pelbagai negara di kawasan ini.

Namun, hal tersebut bisa berubah di masa mendatang karena maskapai seperti AirAsia terus menggenjot operasinya dan mungkin saja menjadikan Indonesia sebagai basis penerbangan regional. Di sisi lain, pertumbuhan penerbangan domestik juga meningkat drastis.

Buruknya akses ke bandara juga menjadi masalah, dan tidak akan bisa teratasi meski pengembangan selesai. Kadang, kemacetan membuat waktu tempuh dari Soekarno-Hatta ke pusat kota mulur menjadi lebih dari satu jam. Bandingkan saja dengan waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mencapai pusat kota Singapura dari bandara Changi, yakni 20 menit. Tanpa adanya jalur kereta, perjalanan dari dan menuju Soekarno-Hatta hanya bisa ditempuh menggunakan taksi. Sementara itu, Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok semua memiliki kereta.

“Kami tak bermimpi berada sejajar dengan bandara utama Asia lain seperti Changi, Kuala Lumpur International Airport, dan Suvarnabhumi,” ujar Ferry. “Dua dari bandara tersebut baru saja dibangun. Sementara Changi dibangun bertahap dengan kapasitas jauh lebih besar dari permintaan demi menghindari penumpukan penumpang,” katanya. Menurutnya, kurangnya moda transportasi yang efisien memerlukan perhatian khusus dari pihak pemerintah.

Pemerintah berencana membangun jalur kereta api cepat yang menghubungkan ibu kota dengan bandara. Namun, tak ada kejelasan kapan pembangunan jalur kereta api itu akan dimulai.

Jalur komuter terpisah tengah dibangun dengan memanfaatkan jalur kereta yang sudah ada ke Tangerang. Harapannya, jalur itu bisa aktif pada 2014.

AP II menyatakan rencana membangun landasan ketiga serta terminal keempat tengah disiapkan. Dengan adanya rencana itu, bandara bisa menampung 87 juta penumpang per tahun. Pembebasan lahan sudah dimulai. Namun, jadwal belum lagi ditetapkan.

“Dengan tren pertumbuhan sekarang, pembangunan landasan ketiga dan terminal keempat sudah jadi keharusan,” kata Tri Sunoko, Presiden Direktur Angkasa Pura II.

Tahap pertama pengembangan Soekarno-Hatta diharapkan selesai 2013 diikuti oleh perluasan Terminal 1 dan 2. Masing-masing terminal akan mendapat penambahan sekitar 30 ribu meter persegi. Selain itu, terminal kargo baru juga akan dibangun. Konstruksi bangunan yang akan menghubungkan tiga terminal dan memuat pertokoan serta restoran diharapkan kelar 2014.

Heru Sutomo, Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik di Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan bahwa adanya pengerjaan awal pengembangan bandara itu setidaknya merupakan kabar baik.
“Bandara [Soekarno-Hatta] seharusnya memiliki empat terminal. Di situ juga semestinya tidak ada lapangan golf karena setiap meter persegi lahan seharusnya digunakan untuk kepentingan bandara,” ujar Heru merujuk kepada Cengkareng Golf Club yang berdiri di wilayah komersil bandara. ”Mereka melenceng dari konsep awal,”ujarnya.

Menurutnya, pemerintah tak perlu membangun bandara baru. Pasalnya, biaya untuk keperluan itu amat tinggi. ”Soekarno-Hatta hanya butuh memberi layanan kelas dunia,” ujarnya.

[Sumber  Berita : http://indo.wsj.com/]

More Information and News :
-->

No comments:

Post a Comment

Dapatkan soft-disain rumah tempat tinggal di halaman [KLIK DISINI]

Dezeen Magazine

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...