Thursday, October 4, 2012

Arsitek Mesjid Istiqlal yang Terlupakan di Kampung Halaman

Frederich Silaban
Mengukir prestasi menakjubkan di pentas nasional belum tentu akan mendapat apresiasi di kampung halaman. Kalimat ini terasa tepat menggambarkan kiprah dan reputasi arsitek Frederich Silaban (1912-1984). Lahir 16 Desember 1912 di desa Bonan Dolok, Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara. Beliau adalah seorang arsitek ternama dalam jajaran arsitek generasi pertama di Indonesia. Arsitek kesayangan Presiden Soekarno ini juga disebut sebagai seorang perintis arsitektur modern Indonesia. Melalui karya-karya arsitekturnya, Frederich Silaban telah memperoleh penghargaaan dari dalam negeri dan luar negeri. Qubah Mesjid Istiqlal telah diakui Universitas Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak cipta Frederich Silaban, yang disebut sebagai "Silaban Dom" (qubah Silaban). Karya dan pemikirannya telah menjadi ajang telaahan apresiatif para akademisi serta praktisi arsitektur di Indonesia. Namanya juga telah termeteraikan sebagai tokoh nasional dalam buku Ensiklopedi Nasional Indonesia.

Qubah Mesjid Istiqlal dari dalam
Qubah Mesjid Istiqlal dari luar
Masjid  Istiqlal dari atas berbentuk kaligrafi  "Allah"
sesuai konsep disain yaitu "Ketuhanan"

Setiap kali nama Frederich Silaban disebut selalu memiliki kaitan dengan latar belakang sosial maupun kampung halamannya. Beliau adalah putera kelima dari keluarga petani di desa Bonan Dolok, Dolok Sanggul, Humbahas. Dilahirkan oleh ibu Noria boru Simamora. Ayahnya, Djonas Silaban, adalah seorang sintua Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Dengan kepiawaiannya dalam bidang arsitektur, Frederich Silaban telah mengukir seberkas sejarah partisipasi seorang putra Humbahas dan orang Kristen Batak di pentas nasional.

Namun di kampung halamannya sendiri, di Dolok Sanggul, Humbahas, arsitek Frederich Silaban tampak nyaris terlupakan. Bukan saja di kalangan masyarakat umum, tetapi hampir semua pemangku kepentingan (stakeholder) termasuk jajaran pemerintahan dalam lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Humbahas terkesan turut alpa mengapresiasinya.

Kealpaan semacam itu terindikasi dari fakta betapa hingga kini, sepanjang diketahui, belum pernah ada pihak di Humbahas yang secara resmi merealisasikan suatu bentuk penghargaan yang pantas baginya. Bahkan selama ini, wacana yang merencanakan suatu penghargaan pun tidak pernah terdengar nyaring. Mengapa?

Sebuah Rahmat

Perihal mengapa kalangan stakeholder masyarakat Humbahas alpa mengapresiasi arsitek Frederich Silaban dapat ditelusuri dalam berbagai kemungkinan argumentasi.

Dari antara kita, boleh jadi ada yang menilai bahwa Frederich Silaban tidak memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan kampung halamannya. Penilaian ini jelas beranjak dari perspektif berdimensi fisik atau material, sebagaimana lazim dilakukan penguasa dan pengusaha. Argumen sedemikian itu tergolong sempit dan dangkal. Terlebih jika kita mau dengan jeli mencermati dan memaknai perjalanan hidup Frederich Silaban (16 Desember 1912–14 Mei 1984).

Kita semua niscaya sepakat bahwa Frederich Silaban telah ‘mengharumkan’ kampung halamannya, Humbang Hasundutan, dalam kancah nasional. Melalui ide dan karyanya sebagai seorang arsitek, beliau telah mencatatkan nama Humbahas dalam dokumen perjalanan sejarah arsitektur Indonesia.

Berdasarkan data dan informasi yang dapat dihimpun, ide dan karya Frederich Silaban mencuat dalam kurun waktu tahun 1950-1960. Ketika itu, situasi sosial politik luar negeri maupun dalam negeri Indonesia masih labil. Keadaan sosial politik luar negeri sedang dalam pembenahan setelah perang dunia kedua. Sementara, kondisi sosial politik dalam negeri berada dalam taraf restorasi untuk memperkokoh bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam situasi sedemikian, Frederich Silaban tampil memproduksi serangkaian karya kreatif arsitektur yang membangkitkan kebanggaan warga Indonesia sebagai negara dan bangsa yang berdaulat. Beliau dengan arif mengakomodasi dan mengimplementasikan gagasan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno tentang nation building, yang antara lain diniatkan untuk menunjukkan kejayaan dan kedaulatan bangsa Indonesia melalui pembangunan fasilitas-fasilitas berskala raksasa, megah dan heroik.

Sebuah langkah awal yang cukup spektakuler ditempuh arsitek Frederich Silaban adalah mengikuti sayembara desain arsitektur Mesjid Istiqlal Jakarta pada tahun 1954. Ketua tim juri adalah Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dengan anggota: Prof. Ir. Rooseno, Ir. H. Djuanda, Prof. Ir. Suwardi. Hamka, H. Abubakar Aceh dan Oemar Husein Amin.

Frederich Silaban dengan berani dan percaya diri mengajukan rancangan arsitekturnya yang diberinya judul ‘Ketuhanan’. Disebut berani dan percaya diri, karena beliau merupakan orang Kristen Batak dan bukan arsitek alumni dari perguruan tinggi atau universitas. Beliau merupakan arsitek otodidak yang cerdas dan potensial. Pendidikan formal ditempuh di H.I.S. Narumonda-Laguboti, Tapanuli, tamat tahun 1927. Kemudian melanjutkan pendidikan K.W.S. (Koningen Wilhelmina School), setingkat Sekolah Teknik Menengah (STM), di Jakarta, tamat 1931.

Dalam bingkai tingkat pendidikannya serta agama yang dianutnya, keberanian Frederich Silaban mengikuti sayembara nasional desain arsitektur Mesjid Istiqlal tergolong khas. Bahkan boleh jadi dibaluri suatu motivasi ala putra Humbang dan mencerminkan secercah semangat hidup orang Kristen Batak di Republik Indonesia ini.

Tim juri dengan intensif menilai dan menyeleksi karya dari tiga puluh peserta sayembara. Setelah melalui serangkaian pembahasan di istana negara Republik Indonesia dan di istana Bogor, pada 5 Juli 1955 tim juri menyatakan desain kreasi Frederich Silaban jadi pemenang. Kemenangan ini memiliki makna substantif yang jamak.

Seorang putra Humbang beragama Kristen telah menciptakan sebuah karya monumental bagi saudaranya sebangsa yang beragama Islam. Umat Islam juga memperlihatkan suatu sikap simpatik dengan terbuka menerima rancangan arsitektur tempat ibadah mereka hasil karya dari seorang yang non-muslim. Pada simpul ini terukir pula suatu tonggak sejarah tentang suasana toleransi antar-umat beragama yang harmonis.

Kemenangan tersebut sekaligus pula menjadi babak baru kiprah kehidupan dan pengabdian Frederich Silaban bagi bangsa dan negara. Beliau menjadi arsitek kesayangan Presiden Soekarno, yang mendapat kepercayaan untuk merancang bangunan-bangunan berskala nasional sebagai lambang kebanggaan warga masyarakat Indonesia.

Selain Mesjid Istiqlal, Frederich Silaban menghasilkan karya-karya arsitektur, antara lain: Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor; Kantor Dinas Perikanan Bogor; Rumah Dinas Walikota Bogor; Bank Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta; Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta; Gedung BNI 1946, Jakarta; Flat BLLD, Bank Indonesia Jalan Budi Kemuliaan Jakarta; Gedung Bank Negara Indonesia 46 di Surabaya; Gedung Bank Indonesia di Surabaya; Markas Besar Angkatan Udara, Pancoran Jakarta; Gedung Pola Jakarta, Hotel Banteng yang kemudian menjadi Hotel Borobudur, Gedung Universitas HKBP Nommensen, Medan.

Arsitek Frederich Silaban juga membuat rancangan arsitektur Monumen Nasional Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng Jakarta; Tugu Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia Jakarta; Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata; Makam Raden Saleh, Bondongan Bogor; Monumen Nasional (Monas) Jakarta dan cetak biru komplek Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sejumlah karya tersebut merupakan catatan sejarah tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Atas prestasinya merancang pembangunan Mesjid Istiqlal, Frederich Silaban menerima anugerah tanda kehormatan bintang jasa sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah Indonesia. Mulai tahun 1967 hingga akhir hayatnya (1984), beliau mengemban tugas sebagai wakil kepala proyek pembangunan Mesjid Istiqlal Jakarta. Beliau pernah menjadi Anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan memiliki peran besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Kontribusi dan prestasi Frederich Silaban dalam bidang arsitektur telah mendapat pengakuan dan penghargaan pada tingkat nasional dan internasional. Semua ini tentu merupakan sebuah rahmat Tuhan, di mana seorang putra Humbahas dapat menghasilkan karya-karya monumental dalam perjalanan sejarah NKRI. Rahmat Tuhan telah membuatnya menjadi tersohor sebagai seorang arsitek yang handal dalam kancah nasional.

Pantas Diapresiasi

Kilasan uraian di atas memperlihatkan betapa seorang anak desa dari Humbang Hasundutan bernama Frederich Silaban telah mengukir berbagai prestasi gemilang. Melalui talenta sebagai seorang arsitek, beliau mengekspresikan rasa cintanya kepada bangsa dan negaranya.

Kecintaan tersebut sungguh tanpa membedakan agama maupun etnisitas. Hal ini dengan jelas dibuktikannya antara lain dalam rancangan arsitektur Mesjid Istiqlal, Jakarta. Melalui karya ini, Frederich Silaban secara implisit telah menorehkan sejumput citra orang Kristen Batak dalam realitas Indonesia yang multikultural.

Memang Frederich Silaban lebih banyak menjalani kehidupan dan meniti karier di Bogor dan Jakarta. Pada usia 15 tahun telah meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan sekolah guna menggapai taraf kehidupan yang lebih baik di pulau Jawa. Kendati begitu, beliau tetap bangga menyatakan diri sebagai berasal dari Humbang dan beragama Kristen.

Esensi identitasnya sebagai putra Humbang dan Kristen Batak niscaya senantiasa melekat dalam semua karya-karyanya. Hal ini pada tataran tertentu memiliki makna implikatif bagi kampung halamannya. Dalam arti, kiprah Frederich Silaban telah mengharumkan daerah Humbang Hasundutan. Pada simpul ini kiranya keliru manakala dari antara kita ada yang menganggapnya tidak berkontribusi terhadap kampung halamannya.

Jika kita menghendaki suatu fakta konkret, maka harus disebutkan bahwa Frederich Silaban telah merealisasikannya dengan caranya sendiri. Yakni, dengan sukarela membuat rancangan arsitektur gedung Universitas HKBP Nommensen (UHN), Medan. Kesediaannya menghadiahkan karya arsitektur gedung UHN boleh jadi dilatari suatu pandangan betapa UHN merupakan representasi dari kampung halamannya. Pandangan ini dapat saja dibenarkan, termasuk karena di UHN terdapat sejumlah warga asal Humbang Hasundutan sebagai dosen, pegawai dan mahasiswa.

Dengan mencermati sejumlah prestasi dan dedikasinya pada kancah nasional, rasanya tidak berlebihan apabila Frederich Silaban disejajarkan dengan T.B. Simatupang dan Liberty Manik. Masing-masing mereka telah menegakkan panji kampung halaman sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Frederich Silaban dalam bidang arsitektur. T.B. Simatupang dalam bidang sosial-politik dan gerakan oikumenis. Liberty Manik sebagai komponis.

Dalam kaitan itu pula, sang arsitek Frederich Silaban cukup pantas mendapat apresiasi yang memadai dari warga masyarakat Humbang Hasundutan. Masyarakat Dari telah mengapresiasi figur T.B. Simatupang dan Liberty Manik dengan membuat suatu monumen sejarah. Sementara kalangan stakeholder masyarakat Humbahas belum mewujudkan suatu bentuk penghargaan kepada arsitek Frederich Silaban.

Maka sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Humbahas dan Universitas HKBP Nommensen segera bergegas memprakarsai sebuah apresiasi terhadap sang arsitek Frederich Silaban. Langkah awal dapat ditempuh dengan menulis dan menerbitkan buku sejarah biografis arsitek Frederich Silaban. Juga patut ditindaklanjuti dengan menetapkan nama Frederich Silaban pada salah satu ruas jalan atau wisma di ibukota Humbahas, Dolok Sanggul.

Realisasi dari semua itu bukan saja sekadar meretas kealpaan generasi kita sekarang untuk mengapresiasi sosok putra daerah, tetapi sekaligus akan bermanfaat demi ‘proyek’ kebangsaan ke depan. ***

Penulis : Sahat P. Siburian 
(Redaksi penerbitan Lembaga Pemberdayaan Media dan Komunikasi (LAPiK), Medan.
(Sumber : http://www.analisadaily.com/)

Masjid Istiqlal dalam 3D di peta gooleearth :


No comments:

Post a Comment

Dapatkan soft-disain rumah tempat tinggal di halaman [KLIK DISINI]

Dezeen Magazine

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...