Showing posts with label Solar house. Show all posts
Showing posts with label Solar house. Show all posts

Thursday, October 9, 2014

Menggunakan Kejeniusan Alam Dalam Arsitektur



Berikut transkrip video diatas (dlm bhs. Indonesia)

Saya ingin mulai dengan beberapa contoh singkat. Ini adalah kelenjar spineret di perut laba-laba. Kelenjar ini menghasilkan enam jenis sutra, yang lalu dipintal menjadi serat, lebih kuat dari serat manapun yang dibuat manusia. Hal paling mirip yang dapat kita buat adalah serat aramid. Dan untuk membuatnya dibutuhkan suhu ekstrim, tekanan ekstrim, dan banyak polusi. Tapi laba-laba bisa melakukannya pada suhu ruang dan tekanan atmosfer dengan bahan mentah lalat mati dan air. Hal ini berarti kita masih perlu belajar. Kumbang ini bisa mendeteksi kebakaran hutan dari jarak 80 km. Itu sekitar 10.000 kali dari jangkauan detektor api buatan manusia. Terlebih lagi, kumbang ini tak memerlukan kabel yang terhubung ke pembangkit listrik tenaga BBM.

0:53 Jadi dua contoh ini memberi gambaran apa yang ditawarkan biomimikri. Bila kita bisa belajar membuat dan melakukan hal-hal seperti yang ada di alam, kita dapat mencapai 10 kali, 100 kali, atau mungkin penghematan hingga 1.000 kali dalam pemakaian sumber daya dan energi. Bila kita ingin maju dalam revolusi kelestarian sumber daya, saya percaya ada tiga perubahan sangat besar yang perlu kita lakukan. Pertama, peningkatan efisiensi sumber daya secara radikal. Kedua, pindah dari cara menggunakan sumber daya yang linear, boros, dan mengotori lingkungan ke model siklus tertutup. Ketiga, beralih dari ekonomi bahan bakar fosil ke ekonomi matahari. Untuk ketiga hal ini, saya percaya, biomimikri mempunyai banyak solusi yang akan kita perlukan.

Wednesday, July 10, 2013

Modernkah Rumah Minimalis..?


Beberapa bangunan “kotak” dengan atap datar, dan minim bahkan sangat minim ventilasi muncul di negara tropis kita. Dengan paparan matahari yang cukup banyak dan suhu harian yang cukup panas, bangunan “kotak” itu sebenarnya tak relevan. Alhasil, dibutuhkanlah teknologi tambahan semacam: air conditioning untuk membuat penghuninya nyaman.

Benar, seperti yang tertulis dalam chapter 6 dari solar geometry, bahwa perkembangan akan ilmu pengetahuan dan technology membuat kita percaya bahwa semua masalah dapat dipecahkan sehingga kita tidak butuh lagi untuk hidup harmonis dengan alam, dengan contoh lain yang ditulis dalam chapter 6 tersebut “…in the desert of buildings with very large areas of glazing, which can be kept habitable only by means of huge energy guzzling air conditioning plants”

Tipis bedanya bahwa itu adalah sebuah kejeniusan dalam ber-arsitektur, atau sebaliknya. Sedangkan Le Corbusier berujar “It is the mission of modern architecture to concern itself with the sun”

Berarti sesuai parameter Le Corbusier akankah arsitektur modern, bangunan-bangunan ini yang tak bersesuaian dengan keadaan matahari bukanlah termasuk arsitektur modern?

Referensi :

Sunday, December 9, 2012

Cara membuat bola lampu solar dari botol plastik


[Sumber video : MrIllacdiaz-youtube channel]

Memanfaatkan cahaya matahari untuk penerangan dengan membuat bola lampu dengan botol plastik.

Langkah-langkah cara membuatnya seperti berikut :

  1. Gunting lembaran atap metal (bergelombang atau yang datar) dengan ukuran 9 x 10 inci
  2. Buat dua buah garis lingkaran pada di tengah potongan lembaran atap metal, dengan diameter sebesar diameter botol plastik dan satu lagi sedikit lebih kecil 2 mm dari diameter botol plastik.
  3. Buat lobang pada garis atau pada diameter lingkaran yang kecil 2 mm tsb. kemudian buat lipatan-lipatan kecil yang dilipat kearah atas lembaran atap metal. serta gosok permukaan botol plastik dengan gundar baja atau dengan ampelas, agar perekat bisa merekat pada botol plastik dengan baik.
  4. Pasang atau masukkan botol plastik (tutup botol arah keatas) pada lobang yang telah dibuat pada lembaran atap metal dan pasang atau beri perekat (anti bocor) pada sisi lipatan-lipatan kecil yang bersentuhan dengan sisi botol plastik
  5. Isi botol dengan cairan chlorine lebih kurang sebanyak 10 ml, ditambah dengan air jernih sampai penuh.
  6. Buat lobang lebih kecil 2 mm dari diameter botol plastik pada atap dan buat lipatan arah ketas.
  7. Oleskan perekat yang dapat merekat dengan kuat pada sisi lobang di lembaran atap yang telah dilobang. Pasangkan perangkat lembaran atap metal yang telah terpasang botol plastik yang berisi cairan chlorine dan air diatas pada lobang atap yang telah diberi perekat.
  8. Beri perkuatan dengan memasang paku skerup lebih kurang 6 buah, agar tidak mudah terlepas, terakhir pasang perekat atau lem anti bocor disekeliling lembaran metal dan juga pada penutup botol plastik agar air tidak menguap.
Nah.., nikmati cahaya cahaya solar disiang hari pada kamar anda yang tidak ada jendela dan ventilasinya

Tuesday, September 25, 2012

ARSITEKTUR SURYA

Pilihan-pihihan Untuk Masa Depan

Apabila kita semua sepakat, bahwa dari sederet panjang kisah peradaban manusia ini kita kurunkan dari abad ke abad, kita simak dan bandingkan abad satu ke abad lainnya maka saat ini kita berada pada satu kurun akhir dari abad 20. Satu abad yang begitu menakjubkan tidak saja karena berbagai perubahan besar yang terjadi akan tetapi terlebih karena pada akhir abad inilah nasib peradaban manusia selanjutnya ditentukan. 

Oleh karena itu pada masa-masa yang akan datang kita akan dipojokkan dan dihadapkan pada pilihan-pihihan yang sangat mencemaskan dan menakutkan yakni antara berlangsungnya kehidupan atau bencana dan kehancuran. 

Dari salah satu pihihan yang sangat mandesak saat ini adalah energi yang pada kenyataannya telah menduduki mata rantai terpenting dari lingkaran kehidupan manusia. Dengan angka pertumbuhan konsumsi sebesar 2 % pertahun maka dalam 20 tahun mendatang konsumsi energi yang bersumber dari minyak bumi akan meningkat menjadi 60 juta barrel per hari, satu jumlah besar yang tak sebanding dengan sumber cadangan yang ada.

Sementara itu, cadangan minyak bumi Indonesia pada 2002 kurang lebih sebesar 9 miliar barel dengan kuota ekspor 1,5 juta barel/hari dan kebutuhan Indonesia mencapai 1 juta barel/hari. Kondisi tersebut diperkirakan pada 2010 kuota ekspornya tetap, tapi kebutuhan domestik meningkat menjadi 1,8 juta barel/hari. Asumsi ini sekaligus menunjukkan kemungkinan bahwa cadangan minyak Indonesia akan habis pada tahun 2020. Padahal minyak bumi merupakan salah satu bahan baku utama pasokan energi listrik.

Proyeksi-proyeksi ini menjadi penting dan mutlak supaya manusia berinovasi mencari energi-energi pengganti di luar minyak dan gas bumi, yang dapat dipakai sepanjang masa dengan tanpa merusak kaseimbangan ekologi yang ada di permukaan bumi ini. 

Sinar Matahari Satu Alternatif

Dari usaha-usaha perbaruan, kemungkinan energi ini ternyata menjanjikan potensi-potensi yang cukup besar antara lain dari energi bermassa, energi angin energi panas samudera, energi hydro serta energi matahari. Semua energi mempunyai tingkat pemanfaatan yang lebih tinggi disebabkan ketersedianya energi ini disetiap tempat di seluruh muka bumi ini dalam jumlah tak terbatas, termasuk juga di Indonesia. Dengan karakteristik penyinaran yang berlebih ini, energi di negara kita merupakan potensi besar yang mutlak harus dikembangkan dan dapat menjadi satu komoditi ekspor, atau paling tidak dapat menjadi self propelling bagi seluruh kebutuhan energi nasional. Hingga bila kebutuhan akan sejumlah besar energi nasional ini dapat terpenuhi akan kuatlah “power based” bagi usaha pengembangan industri nasional. Terlebih kalau kita melihat bahwa tingkat elektrifikasi rata-rata per daerah di Indonesia hanya sepersepuluh dari tingkat elektrifikasi rata-rata di daerah Eropa sedang tingkat rata-rata radiasi per daerah di Indonesia besarnya dua kali lipat dari tingkat radiasi yang diterima di Eropa.

Oleh karenanya dalam kerangka ini sangatlah relevan sebetulnya bagi Indonesia yang saat ini mungkin memang tidak terlalu mengalami kesulitan energi, untuk mulai merintis usaha digalinya sumber-sumber energi non konvensional. Hingga pada saatnya nanti dimana sumber-sumber minyak dan gas bumi sudah tidak tersedia lagi kita sudah siap dengan sejumlah alternatif pengganti. Hanya saja tentunya semua ini membutuhkan prasyarat dasar untuk marintisnya baik itu menyangkut kondisi sosial-budaya, ekonomi, tingkat pengatahuan dan teknologi. 
Revolusi Dalam Berfikir
Banyak para ahli berpendapat bahwa dari berbagai prasyarat untuk menentukan pilihan ke mesa depan satu sikap dasar dalam berpikir mutlak harus dipunyai oleh seluruh umat manusia di dunia. Yakni bagaimana kita semua dapat melihat dan sadar bahwasanya di saat manusia berada pada puncak tertinggi keberhasilannya di saat itu pula manusia berada pada puncak kegagalannya dan puncak krisisnya. 

Oleh karena itu kita semua hanya kembali menengok sikap dan pandangan dasar kita, baik terhadap alam sebagai orang dan sumber kehidupan serta terhadap kehidupan itu sendiri. Beberapa gambaran dibawah ini cukup menjadikan kita terkesima, antara lain ternyata bahwa pada setiap detik di Amerika Serikat, dua puluh empat jam sehari, kurang lebih dua juta, mobil berhenti di depan lampu merah dengan mesin-mesin yang masih hidup, dan ini berarti satiap seratus barrel bahan bakar yang dipakai kita hanya akan memperoleh 5% dari manfaatnya, dengan demikian 95% nya telah hilang karena desain serta tata laksana yang sangat buruk. Kesemuanya menjadikan kita berpikir akankah sikap dan bentuk kehidupan yang demikian ini akan kita teruskan ? 

Torresol Energy : A unique thermosolar power station


The world today is talking about molten salt technology to boost the solar industry with energy storage; the place of EVs during times of fuel concerns and technological development; and how energy-efficiency is being marketed to a crowd whose main concern might not be environmentalism.

---
A unique thermosolar power station in southern Spain can shrug off cloudy days: energy stored when the sun shines lets it produce electricity even during the night. The Gemasolar station, up and running since last May, stands out in the plains of Andalusia.
---
-->
-->
[ More Informatian CLICK here ]

Thursday, April 5, 2012

Award-Winning Architecture Students Inspired by the Desert Snail


Project Title: BioArch
Designers: Elnaz Amiri, Hesam Andalib, Roza Atarod, and M-amin Mohamadi from the Art Institute of Isfahan in Iran
Date: February 2012
Autodesk Software Used: Autodesk® Ecotect Analysis

Project Summary

The team’s goal was to use biomimicry-inspired design to reduce energy use in a building designed for Iran’s harsh desert climate. The team needed to use passive design strategies to protect building occupants from intense sunlight and provide both moisture and ventilation.
Their Bio-Arch design, inspired by the desert snail, minimizes the surface area exposed to solar radiation with curved surfaces, shades nested levels of activity underneath an outer shell, and creates buffer zones that are tempered with natural ventilation.

Problem & Constraints

In entering the 2011 Biomimicry Student Design Challenge, the architecture design team from the Art Institute of Isfahan needed to create an energy efficient design for their local context in Iran that draws inspiration from nature.
The climate in Iran is hot and dry, and much of the land is desert. The temperature of the desert averages 43 degrees Celsius during the day, and the surface temperature can be as high as 65 degrees Celsius.
To keep the occupants comfortable in these harsh conditions, the shelter needs to protect them from intense sunlight and provide both moisture and ventilation. To create an energy efficient design the team needed to use as effective passive design strategies.

Sunday, February 12, 2012

Solar decathlon: Astonyshine Solar House



[http://www.designboom.com] - Students from france's école nationale supérieure d’architecture paris-malaquais and école des ponts paristech joined forces with italy's polytechnic of bari and university of ferrara to produce 'astonyshine', a prototypical house for the solar decathlon europe taking place in madrid, spain in september of 2012. exploring the classical aesthetic of stone masonry, this home reintroduces the historic building material for its low technology thermal qualities. when quarried within 1000 kilometers from the site, benefits include its minimal toxicity risk, ability for downcycling and recylcing as well as reduced air and water pollution during construction. perfect for warm climates, thick perimeter walls will still provide proper insulation while self-ventilating as it is more permeable than concrete.