Showing posts with label green building. Show all posts
Showing posts with label green building. Show all posts

Saturday, May 30, 2026

Biodigestor rumahan


Biodigestor rumahan bekerja melalui proses pencernaan anaerobik (tanpa oksigen). Sisa makanan dan sampah dapur dimasukkan ke dalam wadah kedap udara di mana mikroorganisme (bakteri) menguraikan bahan organik tersebut. Proses biologis ini menghasilkan biogas (sebagai bahan bakar memasak) dan pupuk organik (cair maupun padat). 

Alur kerja biodigester secara lengkap mencakup langkah-langkah berikut: 

• Pemilahan & Pencacahan: Sampah organik (sisa sayuran, kulit buah, sisa nasi) dipilah dari bahan anorganik, lalu dicacah lebih kecil agar lebih cepat terurai. 

• Pemasukan Sampah (Feeding): Sampah dimasukkan ke dalam tangki biodigester. Pada awal pemakaian, biasanya perlu ditambahkan sedikit air dan kotoran ternak (seperti kotoran sapi) untuk memancing koloni bakteri pengurai. 

• Fermentasi Anaerobik: Di dalam tangki yang tertutup rapat dan kedap udara, bakteri mulai mencerna dan memfermentasi sampah. 

• Pembentukan Gas: Proses pencernaan ini melepaskan gas metana (CH\({}_{4}\)) dan karbon dioksida (CO\({}_{2}\)) yang terkumpul di bagian atas tangki biodigester. 

• Penyaluran Gas: Gas metana dialirkan melalui selang khusus menuju kompor dapur untuk digunakan memasak. 

• Hasil Residu (Biosluri): Selain gas, proses ini menyisakan ampas padat atau cair bernutrisi tinggi yang disebut biosluri. Residu ini dapat dikuras dan digunakan kembali sebagai pupuk tanaman yang sangat subur. 

Teknologi ini mendukung konsep zero waste atau bebas sampah di tingkat rumah tangga. Untuk melihat berbagai inovasi dan sistem biodigester yang bisa diterapkan di lingkungan Anda, Anda dapat mempelajari informasi lebih lanjut melalui Panduan Biodigester Rumah Tangga atau melihat penerapan langsung seperti pada Sistem BioMiRu Rumah Energi. 


Monday, May 11, 2026

Ilmuwan China Bikin Tanaman Avatar, Bisa Menyala Gantikan Lampu Kota

Para ilmuwan di China berhasil menciptakan tanaman yang bisa bersinar di kegelapan, mirip seperti dunia dalam film Avatar. Teknologi ini bahkan disebut berpotensi menggantikan lampu listrik di masa depan.

Tanaman bercahaya ini dikembangkan menggunakan rekayasa genetika dengan memanfaatkan gen penghasil cahaya dari kunang-kunang dan jamur bercahaya. Peneliti menyisipkan gen tersebut ke dalam sel tanaman, sehingga tanaman mampu memancarkan cahaya alami tanpa membutuhkan listrik. 

Cahaya yang dihasilkan memang tidak terlalu terang, tetapi cukup terlihat di kondisi gelap. Hingga saat ini, lebih dari 20 jenis tanaman telah berhasil dimodifikasi, termasuk bunga seperti anggrek, bunga matahari, dan krisan. 

Saturday, June 29, 2019

Menciptakan Lingkungan yang Bersih dan Sehat



Lingkungan bersih merupakan dambaan semua orang. Namun tidak mudah untuk menciptakan lingkungan kita bisa terlihat bersih dan rapi sehingga nyaman untuk dilihat. Tidak jarang karena kesibukan dan berbagai alasan lain, kita kurang memperhatikan masalah kebersihan lingkungan di sekitar kita, terutama lingkungan rumah.

Seiring majunya tingkat pemikiran masyarakat serta kemajuan teknologi di segala bidang kehidupan, maka tingkat kesadaran untuk memiliki lingkungan dengan kondisi bersih seharusnya ditingkatkan dari sebelumnya. Beragam informasi mengenai pentingnya lingkungan dengan kondisi bersih serta sehat dapat diketahui melalui media cetak dan online.

Tentu saja lingkungan dalam kondisi bersih serta sehat akan membuat para penghuninya nyaman dan kesehatan tubuhnya terjaga dengan baik. Kesehatan tubuh manusia berada pada posisi paling vital. Alasannya tentulah mengarah pada keberagaman kegiatan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.


Padahal, ada banyak manfaat yang bisa dirasakan seseorang dengan menjaga lingkungan mereka tetap terlihat bersih dan rapi. Lingkungan yang bersih akan menjauhkan sumber-sumber penyakit untuk berkembang di sekitar kita. Hal itu tentu berkaitan dengan kesehatan. Selain itu, dengan lingkungan yang bersih pula, kita akan merasa nyaman dan betah untuk berada di rumah.

Saturday, December 8, 2018

Allan Savory: Cara menghijaukan gurun-gurun di bumi dan membalikkan laju perubahan iklim

“Desertifikasi adalah istilah elit bagi lahan yang berubah menjadi gurun,” begitulah pembukaan yang disampaikan oleh Allan Savory dalam uraiannya yang tenang namun kuat. Dan yang menakutkan, kondisi ini terjadi pada dua pertiga bagian padang rumput dunia, yang mempercepat perubahan iklim dan menimbulkan kekacauan sosial pada masyarakat pengembala tradisional. Savory telah mengabdikan hidupnya untuk mengatasi masalah ini. Dia percaya -- dan hasil penelitiannya sementara ini membuktikan -- bahwa ada satu faktor yang dapat melindungi padang rumput dan bahkan mereklamasi lahan terdegradasi yang dahulunya adalah gurun.

Silahkan simak video berikut :

 

Sumber : https://www.english-video.net/v/id/1683 

Monday, April 25, 2016

Membersihkan Sungai dengan Kincir Air

Tahukah Anda kalau kincir air yang sering digunakan untuk mengubah arus air menjadi energi kinetik, ternyata bisa juga berfungsi untuk mengatasi masalah sampah, yang dianggap sebagai salah satu polusi terbesar dunia?

Sebuah konsorsium memodifikasi kincir air menjadi mesin penyedot yang mampu membersihkan puluhan ribu metrik ton sampah, metode yang ternyata dianggap paling efektif dalam membersihkan Sungai Jones Falls. Ikuti liputan selengkapnya oleh tim VOA dari Baltimore, Maryland.


Thursday, October 9, 2014

Menggunakan Kejeniusan Alam Dalam Arsitektur



Berikut transkrip video diatas (dlm bhs. Indonesia)

Saya ingin mulai dengan beberapa contoh singkat. Ini adalah kelenjar spineret di perut laba-laba. Kelenjar ini menghasilkan enam jenis sutra, yang lalu dipintal menjadi serat, lebih kuat dari serat manapun yang dibuat manusia. Hal paling mirip yang dapat kita buat adalah serat aramid. Dan untuk membuatnya dibutuhkan suhu ekstrim, tekanan ekstrim, dan banyak polusi. Tapi laba-laba bisa melakukannya pada suhu ruang dan tekanan atmosfer dengan bahan mentah lalat mati dan air. Hal ini berarti kita masih perlu belajar. Kumbang ini bisa mendeteksi kebakaran hutan dari jarak 80 km. Itu sekitar 10.000 kali dari jangkauan detektor api buatan manusia. Terlebih lagi, kumbang ini tak memerlukan kabel yang terhubung ke pembangkit listrik tenaga BBM.

0:53 Jadi dua contoh ini memberi gambaran apa yang ditawarkan biomimikri. Bila kita bisa belajar membuat dan melakukan hal-hal seperti yang ada di alam, kita dapat mencapai 10 kali, 100 kali, atau mungkin penghematan hingga 1.000 kali dalam pemakaian sumber daya dan energi. Bila kita ingin maju dalam revolusi kelestarian sumber daya, saya percaya ada tiga perubahan sangat besar yang perlu kita lakukan. Pertama, peningkatan efisiensi sumber daya secara radikal. Kedua, pindah dari cara menggunakan sumber daya yang linear, boros, dan mengotori lingkungan ke model siklus tertutup. Ketiga, beralih dari ekonomi bahan bakar fosil ke ekonomi matahari. Untuk ketiga hal ini, saya percaya, biomimikri mempunyai banyak solusi yang akan kita perlukan.

Tuesday, October 7, 2014

Membangun dengan tanah liat

Oleh : Diébédo Francis Kéré 

Diébédo Francis Kéré and his architectural firm mendisain dan membangun gedung dengan "good for the environment", lihat tayangan video berikut :.



Diébédo Francis Kéré tahu pasti apa yang ingin dilakukannya ketika ia menerima gelar sarjana di bidang arsitektur ... Ia ingin pulang ke Gando di Burkina Faso, untuk membantu para tetangganya meraih keuntungan dari pendidikannya. Dalam paparannya yang memukau, Kéré menunjukkan beberapa struktur indah yang telah ia bantu bangun di desa kecilnya dalam tahun-tahun setelahnya, termasuk sebuah sekolah dasar yang terbuat dari tanah liat, yang dibangun oleh seluruh komunitas masyarakat, dan memenangkan penghargaan.

Biodata Diébédo Francis Kére [Klik Disini]

Wednesday, September 24, 2014

Learn all about green roof professional

Green roof professional as can be inferred from its name, involve planting on top of a roof using special methods which we shall discuss later. A roof may be planted completely or partially, but the most important condition that needs to be available is a water proofing- membrane to avoid damage to the roof and the building as a whole.

We hereby must note that plantation in pots isn’t considered a form of green pots. The types of green roofs are intensive, semi intensive, and extensive. They are classified according to the depth, and the reparation they need.



Intensive roofs bear, on average a weight of 390–730 kg/m2 while extensive roofs bear, on average a weight of 50–120 kg/m2 , and semi intensive somewhere in between. The average cost of an intensive system is $355–2368/m2, while that of an extensive system costs $108–248/m2.

 

This cost is for primary establishment. But the cost of reparation is around one third of the aforementioned amount. It has many advantages and quite a few disadvantages; the advantages are countless, starting by absorbing excess rainwater. It can also relieve stress, as it provides a natural outstanding landscape in the neighborhood.

It is also a source of oxygen through the famous photosynthesis process. In addition to filtering the rain from the heavy metals which pollute it, it protects the building from extreme hot or cold conditions. It absorbs sound waves and creates a barrier to avoid noise pollution.

The disadvantages are mainly economical, the initial cost of establishment of a green roof is double that of an ordinary roof. The building on which a green roof is established needs special requirements in order to bear the extra weight, which makes its installation on average buildings usually impossible.

The steps are rather simple:
1) Making sure the roof can bear plant life; can bear the weight.
2) Adding drainage as excess water might cause serious damage to the building.
3) Making the roof waterproof, to avoid possible collapse or corruption
4) Adding the soil, which should be a mixture of organic and inorganic soil.
It is also preferable to be light-weighed.
5) Adding the plants.
6) Installing an irrigation system.

Projects Examples : 
Green Roof Art School in Singapore
Sky Garden house
Green-Roofed School Blends Into the Environment
The Green School In Stockholm

Sumber  : http://archiengineering.com/ - (green roof service LLC)

Sunday, April 14, 2013

Father and son skyscraper in Cairo, Egypt

Architect : AMZ Design Studio
Project: Father and son skyscraper
Location: Cairo, Egypt
Proposal : 450 meters
Architect Design : Ahmed Elseyofi
Area : 8000 m2

The concept is divided into 3 levels
 
1-skyscraper Shape
the main shape taken from the relationship between Father and son
Shapes of the slaps was taken from Wadi Degla rocks shapes
to create a relationship between design and nature

Human shot

Lay out

Friday, March 22, 2013

Agora Tower by Vincent Callebaut Architectures



Project: Agora Tower
Designed by Vincent Callebaut Architectures
Project Team: Emilie Diers, Frederique Beck, Jiao Yang, Florence Mauny, Volker Erlich, Philippe Steels, Marco Conti Sikic, Benoit Patterlini, Maguy Delrieu, Vincent Callebaut
Model Maker: Patrick Laurent
Client: BES Engineering Corporation, Taipei
Surface Area: 42 335.34 m2
Location: Taipei, Taiwan
Website: vincent.callebaut.org
Vincent Callebaut Architectures' project named the Agora Tower was awarded with the First Prize Winner in November 2010 for the new Luxurious Residential Tower located at Taipei.The Project is currently under construction and will be completed hopefully in 2016. Discover more of this award winning prize after the jump:

1. THE ECOLOGIC PHILOSOPHY OF THE PROJECT:

In the heart of the urban networks of Xinyin District in full development, the AGORA GARDEN project presents a pioneer concept of sustainable residential eco-construction that aims at limiting the ecologic footprint of its inhabitants by researching the right symbiosis between the human being and the Nature. 



On this site that is the last and only biggest parcel of land for residential use, the concept is to build a true fragment of vertical landscape with low energetic consumption. The building is thus eco-designed. It integrates not only the recycling of organic waste and used water but also all the renewable energies and other new state-of-the-art nanotechnologies (BIPV solar photovoltaic, rain water recycling, compost, etc.). 

The project targets thus the energetic performance so as to be officially approved by the Green Building Label, the norm for high environmental quality, delivered by the Home Affairs Ministry of Taipei. 

Monday, October 29, 2012

Gardens by the Bay - World Building of the Year



World Architecture Festival 2012: the Gardens by the Bay tropical garden in Singapore has been awarded the World Building of the Year prize at the World Architecture Festival in Singapore.



Officially the award was given to architects Wilkinson Eyre for the cooled conservatories, but at the ceremony director Paul Finch explained that they wanted to recognise the entire project team, which includes landscape architects Grant Associates and engineers Atelier One and Atelier Ten.

Sunday, October 28, 2012

Green home in Vietnam disain Arsitek Vo Trong Nghia Pemenang "WAF 2012 Winner - House awardK27"


"Stacking Green" Rumah kurus tinggi pada plot sempit di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, yang dirancang oleh Vo Trong Nghia Arsitek, telah memenangkan kategori green home. "WAF 2012 Winner ‘House awardK27’


Tuesday, October 23, 2012

Open-Air Living in the Mountains of Bali

A former London city slicker, Simon Evans made the move from an urban apartment to this Indonesian tropical home among the trees. He worked with local company Bali GreenWorld to design and build his new home — a two-story 377-square-foot structure made entirely out of locally sourced materials. And he cleared out all the dividing walls on the top story to create a full 360-degree view of the surrounding forest. "Words fail me when it comes to describing the extreme natural beauty surrounding me, and the unbelievable generosity, warmth and kindness of the local people," says Evans.

Houzz at a Glance
Who lives here: Simon Evans
Location: Mount Batukaru, Bali, Indonesia
Size: 115 square meters (377 square feet); 1 bedroom, 1 bathroom
That's interesting: All the building's sustainable materials were gathered within 2 miles of the house.


A food forest, maintained and owned by members of the local village, surrounds the home. The house's open architecture allows the endless stream of passersby from the village to stop for a friendly chat. "I do not worry about security at all, as there is always someone from around the area to keep an eye on what's going on," says Evans. "It is a complete contrast with London, where I locked my windows every night for fear of being broken into."


A bench seat created from recycled boat wood faces out to the food forest. Bamboo blinds serve as walls on both stories of the house and can be tied down if the wind picks up. "If it gets cold or I feel like a bit of privacy, dropping the blinds changes the house entirely," Evans says. "When my blinds are open, you really are in the middle of it all — the rainforest and Mount Batukaru to the north, with a view down the sea to the south."


Upstairs, Evans' office consists of a laptop and a beanbag overlooking the forest. "Living here is like a dream," he says. "The design of my house really allows me to experience all of nature up close."


Evans put his bed on a raised platform in the center of the top floor, giving him a 360-degree forest view. Carefully managing the flow of water around the property has eradicated most areas where mosquitoes can easily reproduce, so there's no need for walls and windows.

Saturday, October 20, 2012

Arsitektur Bioklimatik


Defenisi :

Arsitektur bioklimatik adalah suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pada akhirnya bentuk arsitektur yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh budaya setempat, dan hal ini akan berpengaruh pada ekspresi arsitektur yang akan ditampilakan dari suatu bangunan, selain itu pendekatan bioklimtaik akan mengurangi ketergantungan karya arsitektur terhadap sumber – sumber energi yang tidak dapat dipengaruhi. 

Perkembangan Arsitektur Bioklimatik

Perkembangan Arsitektur Bioklimatik berawal dari 1960-an. Arsitektur Bioklimatik merupakan arsitektur modern yang dipengaruhi oleh iklim. Arsitektur bioklimatik merupakan pencermian kembali arsitektur Frank Loyd Wright yang terkenal dengan arsitektur yang berhubungan dengan alam dan lingkungan dengan prinsip utamanya bahwa didalam seni membangun tidak hanya efisiensinya saja yang dipentingkan tetapi juga ketenangannya, keselarasan, kebijaksanaan, kekuatan bangunan dan kegiatan yang sesuai dengan bangunannya, “Oscar Niemeyer dengan falsafah arsitekturnya yaitu penyesuaian terhadap keadaan alam dan lingkungan, penguasaan secara fungsional, dan kematangan dalam pengolahan secara pemilihan bentuk, bahan dan arsitektur”.

Monday, October 15, 2012

Strategi Pengelolaan Sampah Yang Ramah Lingkungan

Apa itu sampah ?

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. “Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.” (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996).

Pengaruh sampah terhadap manusia dan lingkungan

Pembuangan sampah yang tidak terkontrol dan lokasi serta pengelolaan sampah yang tidak memenuhi syarat, cepat atau lambat, baik langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan. Dampak yang ditimbulkan, antara lain :

1. Penyebab penyakit / bahaya kesehatan

Penyakit diare, kolera, tifus dan penyakit kulit serta demam berdarah (haemorhagic fever) dapat menyebar dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai, karena virus yang berasal dari  sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Keracunan juga bisa disebabkan dari sampah, contoh kasus : Telah dilaporkan bahwa di Jepang kirakira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

2. Pencemaran Lingkungan

Sampah dapat mencemari lingkungan,baik darat, perairan, maupun udara. Pencemaran darat yang dapat  ditimbulkan oleh sampah misalnya ditinjau dari segi kesehatan sebagai tempat bersarang dan menyebarnya bibit penyakit, sedangkan ditinjau dari segi keindahan, tentu saja menurunnya estetika (tidak sedap dipandang mata).

Pencemarann perairan yang ditimbulkan oleh sampah misalnya Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga  beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Pencemaran udara yang ditimbulkan contohnya penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi
dapat meledak.

Selain berdampak buruk bagi manusia dan lingkungannya, keberadaan sampah yang tidak terkontrol juga berdampak pada keadaan social ekonomi bagi masyarakat.Oleh karena itu dibutuhkan cara penanganan yang tepat terhadap keberadaan sampah tersebut guna memperkecil dampak negative yang timbul .

Pengelolaan sampah di negara Jepang dan Jerman


Monday, October 8, 2012

Green School di Bali, di Desain dari Bambu



Green School, sebuah laboratorium raksasa yang dibangun oleh PT Bambu, Sekolah ini berada diantara kedua sisi Sungai Ayung di Sibang Kaja, Bali, didalam hutan lebat yang berisi tanaman asli dan pohon-pohon yang tumbuh di samping kebun organik . bangunan ini didukung oleh sejumlah sumber energi alternatif, termasuk air panas dan serbuk gergaji dari bambu untuk alat memasak, generator bertenaga Hydro vortex dan panel surya (Tenaga Matahari).



Bangunan ini terdiri dari ruang kelas, pusat kebugaran, ruang perakitan, perumahan, kantor, kafe dan kamar mandi. Sebagian Besar Terdiri dari berbagai ruangan kelas . Bahan Baku dari gedung ini adalah Bambu lokal, yang diambil dari pengembangan berkelanjutan (perkebunan) sehingga terus dikembangkan dan menghasilkan stok yang banyak , Sehingga nanti Bambu tersebut bisa digunakan untuk bereksperiment arsitektur selanjutnya. Hasilnya adalah Sebuah komunitas hijau yang bisa menjadikan inspirasi dan ilmu bagi para mahasiswa agar lebih penasaran, lebih fokus untuk mempelajari tentang Lingkungan hijau agar planet ini selamat dari bahaya Efek Rumah Kaca dan sebagainya.

Friday, September 21, 2012

Kuliah hari ini : Introduction to Sustainability



Lecturer : Dr. Jonathan Tomkin
(Associate Director of the School of Earth, Society and Environment and a research Associate Professor in the department of Geology at the University of Illinois Urbana-Champaign)
This course introduces the academic discipline of sustainability and explores how today’s human societies can endure in the face of global change, ecosystem degradation and resource limitations.

[ Sign Up ]

Course Syllabus
Week 1: Introduction. Pessimism vs. optimismNeo-malthusians, J-curves, S-curves and the IPAT equation
Week 2: Population. Demographics and the disappearance of the third world
Demographics, population trends
Week 3: Tragedy of the Commons.
Fisheries, pastures, public vs private solutions

Tuesday, May 22, 2012

Wind ventilation

Wind ventilation is a kind of passive ventilation, using the force of the wind (or local air pressure differences) to pull air through the building.

Wind ventilation is the easiest, most common, and often least expensive form of passive cooling and ventilation.

Successful wind ventilation is determined by having high thermal comfort and adequate fresh air for the ventilated spaces, while having little or no energy use for active HVAC cooling and ventilation.
http://sustainabilityworkshop.autodesk.com/sites/default/files/images/Thermal_Cooling_WindVentilation.JPG 
Using the wind for passive cooling and fresh air

Strategies for wind ventilation include operable windows, ventilation louvers, and rooftop vents, as well as structures to aim or funnel breezes.  Windows are the most common tool.  Advanced systems can have automated windows or louvers actuated by thermostats.   

Quantifying Ventilation Effectiveness

To measure the effectiveness of your ventilation strategies, you can measure both the volume and speed of the airflow..

The volume of the airflow is important because it dictates the rate at which stale air can be replaced by fresh air, and determines how much heat the space gains or loses as a result. The volume of airflow due to wind is:

Q_wind = K • A • V

Q_wind = airflow volumetric rate (m³/h)
K = coefficient of effectiveness (unitless, see below)
A = opening area, of smaller opening (m²)
V = outdoor uninterrupted wind speed (m/h)

The coefficient of effectiveness is a number from 0 to 1, adjusting for the angle of the wind and other fluid dynamics factors, such as the relative size of inlet and outlet openings. Wind hitting an open window at a 45° angle of incidence would have a coefficient of effectiveness of roughly 0.4, while wind hitting an open window directly at a 90° angle would have a coefficient of roughly 0.8.

Monday, May 7, 2012

Cocoon-Like Vertical Bamboo Towers Are High Tech and Primitive at The Same Time

Thursday, April 5, 2012

Award-Winning Architecture Students Inspired by the Desert Snail


Project Title: BioArch
Designers: Elnaz Amiri, Hesam Andalib, Roza Atarod, and M-amin Mohamadi from the Art Institute of Isfahan in Iran
Date: February 2012
Autodesk Software Used: Autodesk® Ecotect Analysis

Project Summary

The team’s goal was to use biomimicry-inspired design to reduce energy use in a building designed for Iran’s harsh desert climate. The team needed to use passive design strategies to protect building occupants from intense sunlight and provide both moisture and ventilation.
Their Bio-Arch design, inspired by the desert snail, minimizes the surface area exposed to solar radiation with curved surfaces, shades nested levels of activity underneath an outer shell, and creates buffer zones that are tempered with natural ventilation.

Problem & Constraints

In entering the 2011 Biomimicry Student Design Challenge, the architecture design team from the Art Institute of Isfahan needed to create an energy efficient design for their local context in Iran that draws inspiration from nature.
The climate in Iran is hot and dry, and much of the land is desert. The temperature of the desert averages 43 degrees Celsius during the day, and the surface temperature can be as high as 65 degrees Celsius.
To keep the occupants comfortable in these harsh conditions, the shelter needs to protect them from intense sunlight and provide both moisture and ventilation. To create an energy efficient design the team needed to use as effective passive design strategies.