Wednesday, August 9, 2023

PERANCANG KOTA KUALA LUMPUR MALAYSIA


PERANCANG KOTA KUALA LUMPUR MALAYSIA 

MENGENAL PROF. EM. EZRIN ARBI
Putra Minang Perancang Kota Kuala Lumpur

Bandaraya Kuala Lumpur bolehlah disebut sebagai salah satu metropolitan dengan penataan kota terbaik di Asia. Tapi, mungkin hanya sedikit orang yang tahu, bahwa ibu kota Negara Malaysia itu pertama kali dirancang sebagai kota modern oleh seorang putra Minangkabau. Beliau adalah Prof. Emeritus Ezrin Arbi, putra campuran Maninjau – Banuhampu yang kini sudah berusia 86 tahun. Atas jasanya bagi negara Malaysia, beliau diberikan darjah tanda kehormatan Kesatria Mangku Negara (KMN) oleh Yang di-Pertuan Agong Malaysia (1983).
Selain Ketua Perancang Master Plan (di sana disebut Pelan Struktur) Bandaraya Kuala Lumpur yang pertama (1980-2000), 

Prof. Ezin Arbi juga tercatat sebagai pelopor pendidikan tinggi arsitek dan perancang bandar (tata kota) di Malaysia. Beliau adalah pendiri dan pernah menjadi dekan Fakultas Seni Bina (Arsitektur) dan Alam Bina (induk dari jurusan Arsitektur) di tiga universitas terkemuka di Malaysia. Yaitu di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Universiti Malaya (UM).

Prof. Ezrin Arbi lahir di Bukittinggi pada 24 Oktober 1936 sebagai anak pertama dari enam bersaudara dari kedua orangtua yang berlatar belakang guru. Ayahnya, Arbi Sutan Rangkayo Nan Gadang, berasal dari Nagari Kubang Putih, Banuhampu, adalah guru tiga zaman sejak masa Hindia Belanda, zaman Jepang hingga Indonesia merdeka.
 
Sedangkan ibunya, Fatimah binti Haji Abdul Malik, seorang tamatan Meisjes School zaman Belanda, berasal dari Nagari Sungai Batang, Maninjau, Kabupaten Agam.
Menjalani masa kecil berpindah-pindah dari Maninjau ke Muara Enim (Sumatera Selatan), lalu ke Padang, mengikuti tugas ayahnya sebagai guru, Erzin mulai pendidikan dasar di Sekolah Nippon Indonesia (HIS zaman Belanda) di Maninjau di zaman Jepang. Naik kelas III ia pindah ke SNI Alang Laweh (Padang), dan setahun kemudian pindah lagi ke SNI-PSM di Bukittinggi. 

Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR) akhir tahun 1948, Ezrin melanjutkan ke SMP 1 Bukittinggi hingga tamat (1951). Berkat nilainya yang bagus untuk Ilmu Pasti Alam (IPA) ia diterima di kelas 1 B2 (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) di SMA Birugo Bukittinggi, satu dari hanya dua SMA Negeri di Sumatera Tengah waktu itu. Satunya lagi di Padang. Di antara teman sekelasnya di SMA Birugo Kamardi Thalut, kelak menjadi guru besar dan dekan Fakultas Kedokteran Unand (kini Almarhum).

Tamat SMA dengan predikat lulusan terbaik IPA se-Sumatera Tengah (1954), Ezrin meneruskan ke Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB, waktu itu masih berstatus Fakultas Teknik UI). Setahun di ITB, Ezrin lulus beasiswa Colombo Plan untuk meneruskan pendidikan ke Fakultas Arsitektur, Bangunan dan Perencanaan di Melbourne University, Australia. Setelah memperoleh gelar sarjana muda (Bachelor in Architecture) tahun 1960, dia melanjutkan ke program pascasarjana bidang Perencanaan Kota dan Wilayah (Town and Regional Planning) di universitas yang sama. Dua tahun terakhir di Melbourne, Ezrin juga menyambi kerja di sebuah firma arsitektur swasta di kota itu.

Kembali ke Indonesia tahun 1962, sebagai penerima beasiswa Colombo Plan, Ezrin Arbi menjalani wajib kerja selama tujuh tahun di Kementerian Perindustrian. Dikisahkan dalam buku otobiografinya, Liku Hidup Perantau Minang: Dari Bukit Tinggi ke Kuala Lumpur (2016), pada tahun 1968 ia dikirim untuk mengikuti kursus Project Analysis di United National Asian Institute for Economic Development and Planning (UNAIEDP). Institut ini dikelola oleh Komisi Ekonomi PBB untuk Asia dan Timur Jauh (Economic Commision for Asia and East Fara) atau ECAFE. 

Pengalaman 3 bulan di Bangkok itu yang memantik keinginan Ezrin untuk bekerja di luar negeri, seumpama di lembaga ekonomi dan pembangunan PBB tersebut. Namun untuk bekerja di lembaga itu, saratnya harus punya pengalaman kerja di lebih dari satu negara dengan masa kerja minimal sepuluh tahun. Jelas Ezrin belum cukup syarat.

Hijrah ke Malaysia

Setelah tiga bulan di Bangkok, sebelum pulang ke Indonesia akhir 1968, Ezrin singgah di Kuala Lumpur untuk bertemu teman serumah ketika kuliah di Australia dulu, yaitu Abdul Ghani Ahmad. Waktu itu, Ghani yang seorang akuntan adalah Pengarah Majelis Amanah Rakyat (MARA), sebuah badan yang berfungsi melaksanakan pelbagai usaha khusus untuk memajukan kaum Bumiputra yang ketinggalan dibandingkan kaum lain seumpama China. MARA membawahi sebuah perguruan tinggi bernama Institut Teknologi MARA (ITM) yang kelak menjelma menjadi Universiti Teknologi MARA (UiTM).

Bertemu dengan Ghani dan teman-teman sama kuliah di Melbourne dulu, mereka kemudian secara spontan mengajak Ezrin bekerja di Malaysia karena negara tetangga itu masih kekurangan tenaga profesional Melayu. Terutama di bidang arsitektur dan perencanaan kota yang menjadi keahlian Ezrin. “Kalau awak minat, hubungi saya nanti,” bisik Ghani ketika mengantar Ezrin ke Bandara Subang untuk kembali ke Indonesia.
Kembali ke Tanah Air, daya tarik untuk bekerja di luar negeri, khususnya di ECAFE terus menggoda Ezrin. Guna memenuhi persyaratan, ia tertarik untuk bekerja di Malaysia sebagai batu loncatan menambah pengalaman dan masa kerja. Setelah dia diskusikan dengan istrinya Nursasi Tubangi, wanita asal Jawa Tengah yang ia panggil Sas, ternyata rencananya mendapat dukungan.

Bulan Juni 1969, setelah menyelesaikan wajib kerja tujuh tahun di Indonesia, Ezrin Arbi pun hijrah ke Malaysia dan diangkat menjadi pensyarah (dosen) untuk Kajian Seni Bina, Perancangan dan Ukur di ITM. Selama 16 tahun mengabdi di ITM, Ezrin pernah memegang berbagai jabatan di antaranya sebagai Ketua Kursus (Ketua Prodi) dan Ketua Kajian (Ketua Peneliti) lalu menjadi Pensyarah Utama pada tahun 1981. 

Tahun 1985, beliau dilantik sebagai profesor (guru besar) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Di UTM Prof. Ezrin mengabdi selama enam tahun, di mana empat tahun di antaranya menjadi Dekan Fakultas Alam Bina (Arsitektur, Perencanaan, dan Ukur Bahan) hingga pensiun dari pegawai kerajaan tahun 1991 di usia 55 tahun.

Pensiun ternyata bukan berhenti mengabdi. Pada tahun 1995, Universiti Malaya (UM) mengangkatnya sebagai profesor dengan tugas mendirikan Fakultas Alam Bina (FAB) yang berhasil diwujudkan tahun 2000. Setelah FAB berdiri, beliau diangkat menjadi dekan selama lima tahun. Dalam masa itu, Prof. Ezrin berhasil menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri dalam bidang arsitektur serta perencanaan kota dan wilayah. Atas jasa dan perannya yang besar, pada tahun 2008 Ezrin Arbi diangkat sebagai Profesor Emeritus sebagai puncak pengakuan akademik di bidang arsitektur dan perencanaan oleh Universiti Melaya.

Perancang Bandaraya Kuala Lumpur

Pada tahun 1979, ketika mengajar di ITM, Ezrin Arbi dipinjam selama tiga tahun oleh Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL) untuk menjadi Perancang Utama, lalu promosi menjadi Ketua Projek Unit Pelan Induk (Perancang Master Plan) Kota Kuala Lumpur yang pertama. Jabatan ini mengharuskan Ezrin Arbi menjadi warga negara Malaysia, karena tidak mungkin posisi yang begitu strategis dipegang oleh seorang warga negara asing.

Hasil kerja badan yang dipimpin Ezrin Arbi itu adalah lahirnya Pelan Struktur (Rencana Induk) Bandaraya Kuala Lumpur yang pertama (1980-2000). Jadi, bila kini kita menyaksikan Bandaraya Kuala Lumpur sebagai kota dengan penataan salah satu yang terbaik di Asia, maka itu adalah hasil dari tim yang dimpin oleh Prof. Ezrin Arbi. Atas jasanya yang besar dalam perancangan Bandaraya Kuala Lumpur tersebut,  beliau dikaruniai Darja Kebesaran Kesatria Mangku Negara (KMN) oleh Yang di-Pertuan Agong Malaysia pada tahun 1983.

Selain perancang induk Kuala Lumpur, beliau juga terlibat dalam perancangan luar bandar (wilayah) Tiga Segi Jengka, Negeri Pahang. Untuk itu, ia diangkat menjadi Anggota Lembaga Kemajuan Wilayah oleh Menteri Kemajuan Tanah dan Wilayah tahun 1984. Di samping itu, Prof. Ezrin juga dilantik sebagai anggota mejelis Badan Warisan Melayu (BWM) Malaysia. Di antara proyek yang ditanganinya adalah menyelamatkan “Rumah Penghulu” yang berdiri di samping kantor BWM di Kuala Lumpur. Beliau juga terlibat dalam proyek pelestarian budaya di berbagai negeri di Malaysia. Seperti pembangunan “Projek Kampung Warisan Melayu” dan “Balai Besar” di Alor Setar (Kedah), “Rumah Bomoh” di Perak, serta “Rumah Kedai Belanda” di Melaka.

Sebagai arsitek dan ahli perencanaan kota dan wilayah, Prof. Ezrin telah banyak membuat kajian mengenai warisan arsitektur Austronesia umumnya dan Alam Melayu khususnya. Beliau juga memberikan fokus perhatiannya pada sejarah arsitektur Islam dan  arsitektur masjid di Nusantara. Sebagai akademisi, beliau berjasa dalam mendirikan dan mengembangkan  jurusan dan fakultas arsitektur di tiga universitas di Malaysia, yaitu UiTM, UTM, dan UM. Selama lebih setengah abad mengabdi sebagai pansyarah, menurut Senator Prof. Firdaus Abdullah, Prof. Ezrin telah melahirkan ribuan arsitek dan perencana di Malaysia. Menghormati jasanya di bidang pendidikan arsitektur dan perencana, pada tahun 2017 Lembaga Arikitek Kementerian Kerja Raya (PU) memberikan Anugrah Tokoh Pendidikan Seni Bina Malaysia kepadanya.

Sejak tahun 2014 Prof. Ezrin Arbi menyatakan benar-benar pensiun dari pansyarah di Universiti Malaya. Dua tahun berikutnya, beliau fokus menulis kisah hidupnya sehingga terbit menjadi sebuah buku yang memikat, Liku Hidup Perantau Minang: Dari Bukit Tinggi ke Kuala Lumpur yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia (2016). Meskipun demikian, Universiti Malaya tetap menyediakan kantor untuk Prof. Emeritus Ezrin Arbi di Pejabat Akademi Pengkajian Melayu di universitas tersebut.

Menikah dengan Nursasi Tubangi, dikarunia tiga anak dan 10 cucu, Prof. Ezrin kini menetap di rumahnya yang asri dan dirancang sendiri di SS 22A Damansara Jaya, Petaling Jaya, Selangor. Ia mengisi waktu dengan menunaikan hobi berkebun di pekarangan rumahnya yang luas. Ketika penulis mengunjunginya bulan November 2022 lalu, Prof. Ezrin mengaku sudah tidak pulang kampung ke Bukittinggi sejak terjadinya Covid 19 tiga tahun lalu. Guna mengobati rindu kepada kampung halaman, ia suka memandang sebuah lukisan ukuran besar yang dipajang di ruang tamu rumahnya. Lukisan alam Danau Maninjau nan elok itu adalah karya pelukis A.R. Nizar (Alm), bekas ilustrator Harian Haluan yang tak lain adalah kemenakannya sendiri.

Kondisi Covid 19 jualah yang membuat Prof. Ezrin tidak bisa pulang melayat adik nomor limanya, Prof. dr. Firman Arbi, Sp.A(K) yang meninggal dunia bulan Oktober 2022. Selain masih suasana Covid, penerbangan Padang – Kuala Lumpur waktu itu juga belum dibuka.
Pekan lalu, Prof. Ezrin Arbi tiba-tiba mengirim pesan WA kepada penulis. “Apa kabar Hasril? Insya Allah, kami akan baliek kampuang tgl 13-18 Januari ko. Acara Padang, Bukittinggi, Maninjau, Padang,” pesan beliau. Lalu ditambahkan: “Tujuan utamo nak menziarahi kuburan adiek ambo nan baru maningga”.

Selamat datang di Ranah Minang, Prof. Ezrin Arbi yang baik dan rendah hati. Kampung yang jauh di mata tetapi tetap dekat di hati.

Catatan Hasril Chaniago

No comments:

Post a Comment

Dapatkan soft-disain rumah tempat tinggal di halaman [KLIK DISINI]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...